arti sebuah kesetiaan

Senin, 26 September 2011

Senja gerimis. Mengiring sang surya tenggelam di balik bukit. Sinarnya berpendar membentuk gugusan pelangi di pucuk-pucuk pinus. Sementara air danau  memantul-mantulkan cahya memerah, bagai taburan intan mutu manikam. Sungguh indah dan mempesona. Harusnya fenomena ini membuatku takjub, seraya bertasbih memuji kebesaranNya. Tapi tidak. Panorama ini justru membuatku terduduk pilu. Dan kembali aku terperosok pada pusaran waktu 5 tahun yang telah silam.

Lima tahun yang lalu diberanda inilah, setiap senja aku bercengkerama dengan suamiku tercinta. Sosok manusia paling sempurna di mataku. Baik ketampanan wajahnya, keagungan akhlaknya. Dan juga cinta kasihnya kepada keluarga.            Setiap senja kami bercengkerama, menikmati pesona matahari tenggelam dibalik bukit. Sambil merenda masa depan, tentang anak-anak, tentang rumah, tentang kebun, tentang pekerjaan, tentang segalanya. Sungguh hidup keluarga yang sempurna.

Tapi …senja itu sangat berbeda. Aku telah merusaknya ? Tanpa sadar kuurai mendung dihati, yang harusnya ku buang jauh bersama angin gunung.
“Bi….”, panggilku dengan manja. Seperti biasa aku memanggilnya dengan abi dan diapun memanggilku dengan umi.
“Ada apa mi….” jawabnya sambil membelai rambutku.
“Mioma di rahimku bi, gimana?”. Kekhawatiran dan ketakutan seketika menyelinap di benakku.
“Dokter sudah bilang ndak apa-apa kan Mi?. Ya sudah ndak usah dipikirin”, jawabnya penuh kelembutan.
“Tapi aku kuatir bi..nanti kalau jadi kanker seperti istrinya ustadz Jufri gimana?”.
“Lho….., kalau istrinya ustadz Jufri itu kan ndak pernah diperiksa to, tahu-tahu sudah stadium IV. Lha umi kan berbeda. Umi kan periksa secara rutin. Dan hasilnya aman-aman saja. Apa yang perlu dikawatirkan?. Berdoa dan tawakal, kita serahkan semuanya kepada Allah SWT. Terserah Allah yang ngatur. Toh semuanya pasti ada hikmahnya kan?”.Aku mengangguk. Tapi entah kenapa kekhawatiran itu tak pernah hilang dari benakku.
“Bi… kalau misalnya nanti aku mati karena kanker gimana, Bi?”.
“Umi……Umi. Mati ya dikubur gimana lagi”, jawabnya dengan jengkel. Aku tersenyum kecut“Kok dikubur Bi?”.
“Ya iya to, masak nggak dikubur? Terus mau diapain?”.
“Abi nggak sedih ya kalau aku mati? Pasti Abi seneng kan? Abi kan bisa kawin lagi”.
” Astaghfirullah al’adzim  Umi….ngomong apa sih? jangan ngaco ah”, jawabnya agak sewot. Tampak sekali Mas Burhan tak suka dengan kata-kataku barusan. Tapi entah kenapa aku tak mempedulikannya. Dan  akupun tetap melanjutkannya.
”Bi..pokoknya kalau aku mati, aku nggak rela kalau  Farras di asuh ibu tiri lo”.
”Umi ngomong apa sih? Ngga ada hujan nggak ada angin kok ngomongnya ngaco terus. Nggak ada topik lain apa. Istighfar mi..istighfar!!”, kata Abi dengan nada mulai meninggi. Tapi entah, aku tak mempedulikannya.
”Abi mau janji nggak, untuk tidak kawin lagi, kalau aku mati nanti?”.
”Umi..yang namanya jodoh, rejeki, hidup dan mati itu sudah sunatullah. Sudah pasti. Kita tinggal nunggu, kenapa mesti dirisaukan?. Dan feeling Abi, sepertinya nanti Abi yang mati duluan. Dan kalau itu yang terjadi maka Abi akan lebih senang bila Umi nikah lagi. Dengan begitu ada yang nglindungi umi dan juga Farras”.
”Tidak Bi.. kalau Abi menghadap Allah duluan maka umi akan tetap setia Bi. Umi janji tidak akan menikah lagi. Umi tidak akan mengkhianati Abi. Sebaliknya Abi harus begitu juga ya Bi”.
”Terserah Umilah, tapi kalau Allah memanggilku duluan Umi harus cari pria yang terbaik untuk ayahnya farras”, jawabnya serius sambil meninggalkanku duduk sendiri diberanda ini.Saat itulah Tiba-tiba  gerimis turun, mengantar mentari senja menyelinap di balik bukit. Sinarnya berpendar membuat gugusan pelangi persis seperti pemandangan saat ini.         
Tak kuduga ternyata senja itu, senja terakhirku dengan suami tercinta. Selepas maghrib, beliau keluar kota untuk mengisi pengajian.
Selepas ’isyak tiba-tiba tampak ibu dan juga saudara-saudaraku datang ke rumah. Mereka menghambur memelukku dengan deraian air mata.
”Tabahkan hatimu hasna….” kata ibu dengan tangis tersengal..
”Ya mbak..mbak Hasna harus tabah ya…”, kata safira adikku dengan berlinang airmata.
”Ada apa bu?…ada apa fira? apa yang terjadi”, tanyaku tak mengerti. Namun sebelum ibu dan Safira menjawab pertanyaanku Tiba-tiba sebuah   ambulance datang meraung-raung berhenti didepan beranda. Aku terkejut.
”Si…si…siapa yang…….”., tanyaku tersendat. Ketika sosok tubuh kaku dikeluarkan dari ambulance, akupun terkesiap! ”Abi!!!!……”, jeritku. Seketika itu juga, semua menjadi gelap. Sayup-sayup masih kudengar mereka berkata,” Ustadz Burhan kecelakaan. Mobilnya dihantam truk yang remnya blong”.
********************
Sepeninggal suamiku, hari-hariku menjadi sunyi. Tak ada gairah lagi. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku bagai anak itik kehilangan induknya, bagai si buta kehilangan tongkatnya. Hari-hariku yang ada hanya kesedihan dan kepedihan.
”Hasna, ….tidak baik kamu meratapi kepergian suamimu terus-menerus. Ikhlaskanlah! semoga arwahnya diterima disisiNya, diampuni segala dosanya. Dan kamu harus segera menata diri, kasihan Farras”,  kata ibu sambil memelukku erat-erat.
”Tidak bisa bu…aku tidak bisa melupakan Mas Burhan. Aku tidak mampu….”, jawabku dengan tangis tersengal.
”Kamu harus bisa nduk, harus…”.
”Aku sudah mencoba bu..tapi aku tak mampu…”.
”Hasna..Hasna…”..kata ibu sambil memelukku erat.Akhirnya kami hanya bisa menangis berdua, meratapi nasib yang telah menimpa.


                                                                                                                             (from:nyanyian ilalang)

0 komentar: